RSS

Gelandangan itu…

11 Apr

Udah 1 bulan lebih enggak aktip di blogging karena beberapa prioritas yang mengharuskan saya untuk tidak aktif dulu, jadi maaf buat  Bang Dje karena artikelnya baru bisa saya muat sekarang…. dan saya juga mau mengucapkan terimakasih karena sudah memberikan artikel untuk di muat disini.

Ya dah  enggak usah lama-lama kita baca ja artikelnya langsung yukkk….

.: Gelandangan itu…….

Suatu hari saya pulang kantor sesaat menjelang waktu shalat Isya’. Saya disambut dengan cerita dari istri saya, bahwa ada orang gila yang tidur di rumah kosong di sebelah rumah kami. Persis di samping kiri rumah kami memang ada rumah kosong. Rumah itu sebenarnya sudah rusak sangat parah. Daun pintu dan daun jendela sudah hilang semua. Lantai rusak dan kotor. Listplank hancur dan genting juga sudah tidak teratur. Halaman penuh dengan semak belukar dan ilalang setinggi manusia.

Orang Gila atau Gelandangan ?

Hal ini tentu membuat kami cemas karena kami memiliki anak yang masih berusia satu setengah tahun yang suka bermain di halaman rumah. Kami khawatir orang gila itu berbuat jahat terhadap anak kami. Saya merasa hal ini tidak dapat diabaikan dan harus menghubungi pengurus RT.

Belum sempat berbuat sesuatu hujan turun cukup deras, sehingga saya mengurungkan niat. Setelah mandi istri saya lalu bercerita dengan lebih lengkap. Dia mendapat info dari tetangga yang tinggal di sebelah kanan rumah kami, bahwa ada orang gila yang berdiam di rumah kosong. Sekitar jam tiga sore dia melihat orang gila itu sedang menyapu bagian dalam rumah .

Lho, sejak kapan orang gila bisa menyapu. Berarti dia bukan orang gila tetapi gelandangan. Saya menjadi semakin khawatir karena gelandangan bisa berbuat apa saja termasuk mencuri. Belum lama berselang seorang pencuri yang menyaru sebagai pemulung tertangkap dan diserahkan ke polisi. Sekarang datang gelandangan di sebelah rumah kami.

Saya khawatir gelandangan itu adalah pencuri yang sedang menyaru. Karena hari sudah larut dan hujan masih mengguyur sehingga saya memutuskan untuk mengurus masalah ini pada esok pagi saja.

Proses Pengusiran

Pagi hari sekitar pukul enam saya berjalan-jalan dengan anak saya dan saya melihat gelandangan itu. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun dengan penampilan yang cukup bersih baru pulang dari belanja ! Semakin jelas bahwa dia adalah seorang gelandangan dan bukan orang gila. Sepulang dari jalan-jalan saya melihat gelandangan itu sedang memasak di teras depan rumah memakai kayu bakar dan tungku dari batu bata.

Beberapa orang tetangga termasuk beberapa pengurus RT ternyata telah berkumpul dan sepakat untuk mengusir gelandangan itu. Saya pun bergabung dengan mereka. Kami bicara dengan cara yang baik kepada gelandangan itu agar keluar dari lingkungan kami.

Ternyata dia tidak melakukan perlawanan. Dia langsung mengemas barang-barangnya (dia membawa cukup banyak pakaian dan panci untuk memasak), membersihkan bekas tungku, dan berlalu.

Seorang tetangga bercerita bahwa sebenarnya dia sudah akan diusir sejak tadi malam. Tetapi ada yang merasa kasihan karena gelandangan itu perempuan, seorang diri, hari sudah malam apalagi lalu turun hujan. Sehingga mereka sepakat menunda pengusiran hingga pagi harinya.

Perasaan Egois dan Curiga

Saya tulis ulang pengalaman ini setelah sekitar tiga tahun waktu berlalu. Muncul perspektif yang berbeda dalam pandangan saya. Sudah benarkah tindakan kami? Tidakkah waktu itu kami telah bersikap egois? Apakah kami lebih mengutamakan keamanan linkungan kami daripada nasib seorang manusia yang kurang beruntung?

Secara pribadi saya juga mempertanyakan kecurigaan dan kekhawatiran kami, saya dan istri saya. Mungkin dia tidak berniat jahat. Mungkin dia hanya orang miskin yang berusaha mencari penghidupan. Mungkin sebenarnya dia justru membutuhkan bantuan. Saya sempat tercenung memikirkan segala kemungkinan ini.

Namun beberapa peristiwa negatif yang mendahuluinya membuat kami mengambil keputusan sulit ini. Kami kemudian hanya bisa mendoakan semoga dia mendapat keberuntungan dan tidak perlu menggelandang lagi.

Gelandangan itu

Di rumah saya ceritakan proses pengusiran kepada istri saya. Ternyata muncul pula rasa iba dan tanda tanya di hati kami. Siapa dia sebenarnya? Dari mana asalnya? Mengapa dia hidup menggelandang? Darimana dia mendapat uang? Darimana dia mendapat air untuk memasak? Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Dan banyak pertanyaan lain yang menggantung. Karena kami hanya saling mengajukan pertanyaan tanpa jawaban.

Tapi saya rasa kami tidak akan pernah mengetahui jawabannya. Dia telah pergi ke tempat lain. Mungkin untuk diusir lagi.

.: “Kisah nyata ini ditulis oleh Bang Dje ” :.

Sebagian orang ada yang menyalahgunakan penampilan untuk melakukan hal yang tidak terpuji seperti menipu dan kita pun tidak bisa membedakan mana yang benar2 menipu… karena kita hanya bisa melihat dan menilai  (prasangka) tanpa bisa tahu siapa dibalik penampilan tersebut.

“Jika pembaca dihadapkan pada kodisi seperti artikel diatas, apa yang akan anda lakukan??……..”

vaepink.wordpress.com
 
23 Comments

Posted by on April 11, 2010 in Uncategorized

 

23 responses to “Gelandangan itu…

  1. Richo

    April 11, 2010 at 9:19 pm

    Jadi inget kisah presiden Amerika Serikat yang mempercayakan penampilan mereka pada seorang bekas gelandangan. Dia menentukan baju apa yang cocok dipakai para presiden.

    Semangat terus yah….!!!!😉

    ———
    V@e…
    Semangat….!!🙂

     
  2. Pak Kompos

    April 12, 2010 at 9:02 am

    aduh, menyentuh sekali ceritanya.
    Memang pilihan sulit…

    ——-

    V@e…
    makasih sudah mampir yah…🙂

     
  3. Bang Dje

    April 12, 2010 at 5:37 pm

    Terima kasih sudah dimuat.
    Sejatinya saya ingin tahu. Bagaimana seharusnya bila menemui peristiwa seperti ini. Karena hal ini sangat mungkin suatu saat terjadi lagi.
    Saya sangat berharap mendapat masukan dari teman-teman semua.

    ——-
    V@e….
    Iya bang sama-sama dan mudah2an sedikit banyak abang dapet masukannya yah…🙂

     
  4. Barliano

    April 13, 2010 at 10:47 am

    sisipkan juga tentang perkembangan dunia islam saat ini juga di masa lalu sebagai tolak ukur, karena sekarang banyak manusia yang telah lupa.
    Abi merasa senang baca artikelmu. ayo…ayo siapa yang mau pasang iklan…

    ——

    V@e….
    InsyaAllah bi, mudah2an secepatnya va bisa dapet bahannya…🙂

     
  5. Usup Supriyadi

    April 13, 2010 at 4:01 pm

    ya sebuah hal yang sulit . disinilah seharusnya agama hadir, dimana tujuannya selalu sosial dan kemanusiaan . jangan malah sibuk sok sok merasionalisasikan pemikiran Islam yang murni, lihat lah umat !

    *ngawuuur*

    well, nice post . memang perlu ada yang memberdayakan .

    ——–

    V@e…
    memang serba salah klo dihadapkan pada kondisi seperti ini karena kita juga takut salah langkah, yang harusnya kita tolong malah kita hindari begitupun sebaliknya…, mungkin memang harus ada pendekatan terlebih dahulu…. bisa dilihat dari gerak geriknya atau cara bicaranya…..

     
  6. rumahsehatafiat

    April 13, 2010 at 7:29 pm

    Ya miris memang ,kehidupan mereka yang dicampakan.Hmmm sebuah kata yang patut diucapkan , mari berempati sesama mereka, kasihi mereka

    ——

    V@e….
    Makasih yah sudah mampir….🙂

     
  7. Asop

    April 14, 2010 at 7:27 am

    Kalo gelandangan itu tinggal di rumah sebelah yang kosong, saya rasa tidak apa-apa. Bahkan saya sebisa mungkin ingin membantunya dengan memberikan sedekah.😐 Saya orangnya gak tegaan. Kecuali kalau sekomplek perumahan sepakat mengusirnya, maka saya ikut saja.

    ——–

    V@e…
    Mungkin sebaiknya kita berprasangka baik dulu kali yah…, sehingga penilaian terhadapnya akan menjadi netral tanpa kecurigaan sambil selanjutnya kita mencari informasi tentangnya…🙂

     
  8. achoey

    April 14, 2010 at 8:58 am

    Ada rasa kasihan kalau melihat gelandangan, tapi kalau juga gila, ada rasa was-was berulah.

    Yang sedih lagi, banyak yang pura2 jadi geandangan utk mendapatkan nafkah. Maka semakin banyak orang tidak impati.

    Lama tak bersua adikku🙂

    ——

    V@e…
    iya a’ itulah masalahnya banyak juga orang yang berpura2 hanya untuk mendapatkan simpati kita terhadap mereka… sehingga pikiran kita pun jadi bercabang antara percaya dan tidak percaya terhadapnya….😀

     
  9. malinks

    April 14, 2010 at 10:20 pm

    keren teh ceritanya,bisa di btkan tu bukunya….

    —–

    V@e…
    Duhhh…., ada malinx’s datengggg…. tapi enggak ngambil papa kan kang hehe…😛
    ini cerita asli kang, yang terjadi sama Bang Dje

     
  10. Bung Eko

    April 15, 2010 at 8:35 am

    Aduh, ini gimana ya? Kalau tidak diusir nanti takutnya beneran pencuri yang menyaru jadi gelandangan untuk menipu persepsi warga. Tapi kalo diusir begitu rupa kok ya kasihan banget ya? Lha, besok-besok dia tidur di mana?

    Wallahua’lam bishowab deh,

    ———

    V@e…
    Pilihan yang sulit…., Makasih yah sudah mampir….🙂

     
  11. Hanif

    April 16, 2010 at 8:52 am

    mencari aman. itu menurut saya. dengan kata lain, dicoba beberapa pendekatan dini yang kita lakukan, bertanya, apa maksudnya berada disana, dsb, dirasa jawabannya tidak memuaskan, dan mencurigakan, jangan memaksa, langsung ke RT. itu saja, hehe… soal kasihan atau tidak, dalam pendekatan dini setidaknya dibantu, baik dengan uang atau makanan, begitu.

     
  12. vaepink

    April 16, 2010 at 4:53 pm

    @ hanif :
    iya mungkin itu lebih baik, setidaknya kita bisa tahu sedikit banyak tentangnya…

    O.. ya makasih yah sudah mampir…🙂

     
  13. febriyanto

    April 20, 2010 at 10:34 am

    tidak semua gelandangan itu gelandangan….. hhe🙂

    —-

    V@e…
    jadi bingung…, tapi makasih yah sudah mampir

     
  14. ghani arasyid

    April 24, 2010 at 12:16 am

    menurut saya… semua kembali ke faktor ekonomi dan bagaimana mentalitas sesorang menyikapi keterbatasan faktor ekonomi tersebut.
    tapi apapun, ini hal yang sulit😦

    —-
    V@e…
    Mungkin disini lah kebijaksanaan kita dalam mengambil keputusan diuji…

     
  15. bluethunderheart

    April 25, 2010 at 8:22 pm

    p cabar
    postinganmu hebat,kawan
    salam hangat dari blue

    —-

    V@e…
    Alhamdulillah baik blue, makasih…
    mudah2an blue juga dalam keadaan baik yah, InsyaAllah (Amin)🙂

     
  16. Mulz

    April 27, 2010 at 8:23 am

    Mungkin saya juga merasakan kesulitan untuk mencari sebuah keputusan. Jika keputusan yang saya ambil untuk membiarkannya, maka kami akan khawatir akan ketentraman di daerah tempat tinggal saya. Karena saya diposisikan sudah mempunyai anak yang masih kecil, dan saya khawatir jika seorang gelandangan itu menculik anak saya maupun mencuri barang saya maupun barang para tetangga saya.
    Akan tetapi jika kita memilih untuk mengusirnya kita akan merasa lega bahwa saya sudah merasa terbebas karena tidak ada prasangka lagi untuk berprasangka buruk terus menerus.

    Saran saya jika terjadi hal seperti di atas lagi :
    – Seharusnya kita tanya dulu asal-muasal ibu tersebut. Jika jawabannya logis untuk kita maka kita ajukan lagi pertanyaan berikutnya.
    – Kenapa ibu sampai jadi seperti ini? Untuk mengetahui sebab-sebabnya menjadi gelandangan.
    – Apa maksud ibu untuk menempati rumah ini? Jika jawabannya meyakinkan maka tidak usah menggunakan pertanyaan berikut: Adakah niatan ibu untuk berbuat kerusuhan di daerah kami?
    – Dan sebagainya…

    Sehingga insya Allah dari jawaban di atas akan kita pahami kisah hidup si ibu tersebut.

    kita sebagai seorang muslim tak sepatutnya kita berburuk sangka. Tak sepatutnya kita langsung mengusirnya walaupun dengan cara halus, karena setiap manusia itu memiliki hati nurani meskipun gelandanganpun pasti bahwa dia akan merasakan sakit hati ataupun sedih jika diusir walau memang benar itu bukan tempat tinggalnya yang sebenarnya.

    Bukankah rasullulloh SAW dulu setiap mau pergi kemasjid beliau diludahi oleh orang quraisy? Akan tetapi rasulullah tidak marah apa lagi berprasangkah buruk sama orang yang suka meludahinya tersebut, sebaliknya Rasullullah SAW menjenguknya ketika sakit. Dan sama juga pada ibu yang sangat membutuhkan bantuan kita tersebut, memang sungguh menusia itu cenderung pada hawa nafsunya.

    Akan tetapi tidakkah kita mempunyai rasa empati seditpun untuk ibu itu. Bukankah jika kita menolong ibu itu dengan hati yang ikhlas kita akan sedikit menghadap Jannah-NYA. Bukankah kita mengharap bertemu Rabb azza wa jalla kita dengan amal yang baik.

    “Tahukah kalian apakah ghibah itu? Mereka menjawab : Allah dan RasulNya yang mengetahui. Beliau bersabda : Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya, ditanyakan : “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku ? beliau menjawab : jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu maka engkau talah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya” (HR Muslim : 4/2001).

     
  17. vaepink

    April 27, 2010 at 12:50 pm

    @Mulz :
    Makasih adikku buat masukannya…, kita memang harus lebih bijaksana dalam mengambil keputusan…🙂

     
  18. Muliadi

    May 1, 2010 at 12:51 pm

    Insya Allah seperti itu

     
  19. fitrimelinda

    May 9, 2010 at 5:02 pm

    wahh..difficult to choose..

     
  20. l5155st™

    May 26, 2010 at 8:15 pm

    Hal ini tentu membuat kami cemas karena kami memiliki anak yang masih berusia satu setengah tahun yang suka bermain di halaman rumah.

    apakah anak yang dimaksud adalah Haikal, mbak pipink?

     
  21. agustri

    July 11, 2010 at 12:08 am

    hidup adalah pilihan heheheh…:)

     
  22. eelham182

    July 20, 2010 at 3:18 am

    wah iya juga ya mbak vae, qt sering mikir gt tp qt jg egois klo mikir spt tu. mantab, pembahasan na pasti dalem mbak.

     
  23. cenya95

    September 6, 2010 at 12:59 pm

    Faith makes all things possible.
    Hope makes all things work.
    Love makes all things beautiful.
    May you have all of the three.
    Happy Iedul Fitri.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: