RSS

Monthly Archives: November 2008

Aku ada didekatmu…

Dimanakah Tuhan berada ketika kita mengalami kesulitan??…

            Pertanyaan itulah yang sering kali kita pertanyakan ketika sedang mengalami kesulitan. Ketika Tsunami terjadi pada beberapa tahun yang lalu seorang pengarang lagu bahkan mengemukakan tuduhannya kepada Tuhan.

Situasi sulit memang lebih sering membuat kita mawas diri dan prihatin. Kebanyakan dari kita menggunakan konsep “berusaha dan kemudian berdo’a”. Konsep ini sering diartikan sebagai kepasrahan. Cara berpikir seperti ini akan membuat kita berdo’a hanya pada saat-saat terakhir. Atau malah mungkin lupa berdo’a bila usaha kita diawal-awal saja sudah membuahkan hasil.

Sekarang kita rubah kebiasaan tersebut dengan berdo’a terlebih dulu dan kemudian berusaha sekuat-kuatnya sambil menyaksikan kekuatan Allah bekerja bersama-sama dengan kita, kemudian kita kuatkan lagi do’a kita, kemudian berusaha lagi dan seterusnya. Dengan berdo’a diawal, kita sebenarnya sedang mengakses sumber energy yang luar biasa. Dengan berdo’a diawal kita sebenarnya “meminjam” kekuatan Allah. Dan dengan berusaha setelah berdo’a kita sedang menyediakan “media” agar kekuatan tersebut bekerja.

Allah tidak menurunkan langsung solusi terhadap permasalahan kita “langsung dari  langit”. Sebaliknya Allah menunjukan kehadiranNya dalam peristiwa peristiwa yang biasa, dengan cara-cara yang biasa juga. Allah menghadirkan “kebetulan-kebetulan” dalam hidup kita. Dalam konteks Allah sebenarnya tidak ada yang bernama  kebetulan. Semuanya berlangsung dalam sebuah scenario besar. Yaitu Skenario Allah. Semua kebetulan itu mungkin adalah cara Allah untuk menunjukan kehadiranNya ditengah tengah kita . Allah ingin menunjukan bahwa Ia sangat dekat dengan kita, dan selalu siap   untuk membantu kita pada saat-saat kita membutuhkannya…

Sebuah masalah seringkali  mendekatkan kita padaNya. Bahkan semakin pelik masalah yang kita hadapi semakin dekatlah kita denganNya, semakin intensiflah komunikasi kita denganNya. Perilaku ini amat berbeda dengan perilaku ketika kita mendapatkan rahmat, apakah kita masih bertanya, “Dimanakah Tuhan berada… ??”.

Secara psikologis, tentu saja kecenderungannya adalah kita mencari Allah pada saat kita membutuhkannya. Dan sayangnya kita sering menerjemahkan kata-kata “membutuhkan” hanya bila kita sedang mengalami suatu masalah yang pelik. Dalam situasi yang  menyenangkan kita lebih sering lupa. Lupa bahwa kita membutuhkan Allah dalam situasi apapun. Lupa bahwa dibutuhkan atau tidak, Allah sebenarnya berada  sangat dekat dengan kita. Lupa bahwa keberhasilan kita sebenarnya tak lepas dari campur tangan Allah juga.

Dalam kondisi bahagia kita sering merasa bahwa segala sesuatu terjadi karena usaha kita. Sehingga kita sebagai manusia menjadi sombong dan akhirnya kita akan merasa klo diri kita itu tidak membutuhkan siapa-siapa termasuk Allah. Ini lah keegoisan seorang manusia yang mengakibatkan akses kita dengan Allah terputus. Kita sering kali menutup diri terhadap Allah dengan ego, kenikmatan, kesenangan, kesibukan, kemewahan, keterkenalan, dan  lainnya.  Namun wlopun demikian Allah tetap ada didekat kita, hanya kitalah yang kemudian  menutup hati dan pikiran kita dari sinarNya…

Cerita seorang bijak pernah bertanya kepada murid-muridnya “Dimana Tuhan  ada ??.. ”. Murid-muridnya yang keheranan itu dengan tangkas menjawab “Dimana-mana.”.Namun orang bijak itu mengatakan “Tidak, Tuhan hanya ada ketika manusia membiarkanNya masuk.”

Melalui masalah Allah ingin dikenali dan ingin diajak komunikasi. Sebuah masalah boleh jadi merupakan ungkapan kasih sayang Allah yang amat kepada kita.

“Spiritual Leadership,  Nebula ESQ”

 
27 Comments

Posted by on November 26, 2008 in Curhat, Motivasi

 

Tags:

Dapatkah kebahagiaan itu dikejar dan dicari ??…

Kalau tiba-tiba dihadapan kita ada peri cantik dengan kemampuan mengubah dan mengabulkan apa saja yang kalian inginkan dan idamkan,… Mana yang akan kalian pilih?? Seorang pria tampan atau wanita cantik..,  rumah besar dan indah… atau mungkin karir yang sukses… Aku yakin kalian semua pasti punya jawaban masing-masing yang berbeda satu sama  lain dan mungkin jawabannya bukan diantara 3 itu malah hehehe… 😀 . Begitupun jika kalian ditanya kenapa kalian ingin bekerja?? Kalian mungkin akan menjawab karena aku ingin memperoleh penghasilan, kenapa ingin punya penghasilan?? Karena ingin punya rumah dan bina keluarga yang baik. Kemudian kenapa ingin punya rumah dan bina keluarga yang baik?? Karena ingin bahagia… 🙂  , Bahagia adalah keinginan yang paling terakhir. Ya meraih hidup bahagia menjadi impian dalam gerak hidup kita disetiap hari.. 🙂

Kita senantiasa mengejar kebahagiaan itu. Kita ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sebab menurutnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam  kehidupan. Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang  miskin  menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan.

Dapatkah kebahagiaan itu dikejar dan dicari??.. namun sebelum kita jawab, kita harus tahu terlebih dahulu Apa itu kebahagiaan??.. Apakah kebahagiaan itu suatu kepuasan hati  karena telah tercapai sesuatu yang diinginkan?? Kalau begitu, bahagia itu terbatas sekali, hanya sementara, dan segera berubah menjadi kebosanan. Apakah bahagia itu kesenangan?? Juga tidak, karena kesenangan hanyalah pemuasan nafsu belaka, rasa nyaman  ini hanya untuk sementara malah dia memiliki saudara kembar yaitu kesedihan, seperti tawa dan tangis. Klo itu bukan lalu apa yang dimaksud kebahagiaan itu..??

Kebahagiaan seseorang itu sangat relatif. Tergantung individu masing-masing, apa yang dipandang berarti dan membuat bahagia bagi seseorang belum tentu berarti pula bagi orang lain. Tinggal disebuah rumah mewah memang senang  tapi blom tentu bahagia, sebaliknya tinggal didalam gubuk mungkin saja merasakan kebahagiaan.

Kita kerap kali meyakini bahwa kita bahagia bila kita sukses, kaya, atau dapat menikmati macam-macam kesenangan. Keyakinan itu begitu kuat sehingga kita terpesona melihat orang yang memiliki salah satu dari ketiga-tiganya. Kitapun seringkali merenung, “Kapan kita seperti mereka??” lalu, kita habiskan waktu untuk mengejarnya.

Kita memang selalu condong untuk mengejar. Karena mengira bahwa kebahagiaan berada diluar diri, kita mengubah-ubah yang berada diluar. Sehingga terjadilah pergolakan-pergolakan dan konflik-konflik. Kita lupa bahwa sesungguhnya yang indah berada didalam dan bahagia itu adalah urusan bathin. Kalau bathin sudah tidak mengejar-ngejar,  tidak mencari-cari apa yang berada diluar jangkauan kita, maka bathin itu akan menjadi tentram… 🙂

Segala sesuatu didunia ini mengandung keindahan bagi bathin yang tidak mencari apa-apa. Baik suka, meupun duka, dihadapi dengan senyum dan dipandang suatu keindahan, tanpa keluhan karena tidak ada yang perlu dikeluhkan, karena tidak ada penyesalan dalam  bathin. Dalam keadaan inilah kita mungkin akan merasakan dan mengerti apa hakikat sesungguhnya kebahagiaan itu. Karena sejatinya, kebahagiaan itu tidak berada didalam gedung yang  indah, tidak berada didalam makanan yang lezat, tidak berada dalam  kedudukan tinggi atau diantara tumpukan emas. Tapi  kebahagiaan itu adalah urusan hati…. 🙂 . Kebahagiaan itu adalah pilihan jadi  kebahagiaan itu pasti bisa kita dapatkan dan bisa kita wujudkan.

Ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia menurut Ibnu Abbas yaitu

Pertama… Hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qonaah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan  maka ia segera ingat sabda Rasulullah yaitu : Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal  ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap bandeldengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.  Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua… Pasangan hidup yang sholeh

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga… Anak yang soleh

Amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita,  namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang  tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat… Lingkungan yang kondusif untuk iman kita

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah kita boleh mengenal siapapun  tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang  selalu  terpancar  pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut  menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.  Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima…Harta yang halal

Harta yang halal akan  menjauhkan  setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya.  Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam… semangat untuk memahami agama

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat  memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh… Umur yang baroqah

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah.

Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari  rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam)  tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Rasulullah…, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya… “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah?”.

Rasulullah… “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”.

Lalu para sahabat kembali bertanya… “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”

Rasulullah…“Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”

Jadi sholat kita, puasa kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin). 🙂

 
41 Comments

Posted by on November 16, 2008 in Curhat, Motivasi

 

Tags:

Kata – kata Ajaib

Apakah Kata-kata Ajaib itu…??

Pasti  kalian bingung maksudnya apa yah vaepink ini aneh-aneh aja hehe… 😀 ,  kata kata ajaib disini bukan…

BINSALA BIN”  or  Avada KedavraAvra Cadaver

melainkan kata…

MAAF” (sorry) & “TERIMA KASIH” (Thanks)

Yap dua kata ini memang ajaib,  kenapa bisa dibilang ajaib ?? …  😛 ,

ya udah biar enggak penasaran aku jelasin…, kenapa bisa dibilang ajaib…

Ntah berapa banyak kata2  yang  telah keluar dan mungkin saja telah menyingung atau menyekiti perasaan saudara kita, teman ataupun mitra kerja kita…, jika kita kumpulkan dan jumlahkan semua kata-kata itu dalam seminggu saja.., bisa kita bayangkan  jika dalam  komunikasi  kita tidak ada  kata  maaf  ataupun  memberi  maaf… mungkin kehidupan ini akan sangat tidak nyaman sekali. Sebab, sesungguhnya tiada hari kita tidak berbuat salah, sengaja atau  tidak sengaja, dan menyinggung perasaan orang lain.

Jika kita mengucapkan kata maaf kita tidak akan menjadi “jatuh miskin”. Bahkan ego, gengsi, benci, iri-dengki  jika ditumpuk tidak akan membuat kita menjadi “jatuh kaya?” jadi buat apa  kita tumpuk semua itu??…

Begitupun dengan memaafkan…,  orang yang enggan memberi maaf,  jiwanya tidak akan pernah bisa tenang,  karena lama-kelamaan endapan  kesal,  kecewa, dan benci kepada seseorang akan terasa semakin berat dan menjadi beban pikiran serta perasaan. Orang yang bisa memaafkan dengan tulus berarti dia mampu  menerima kenyataan pahit, kemudian berusaha melupakan dan  membuka  lembaran baru. Namun ada kalanya memaafkan mesti disertai  hukuman dan kemarahan sebagai pendidikan bagi mereka yang berbuat salah.  Memaafkan ada untuk mereka yang lapang, berjiwa besar, dan memiliki rasa percaya diri serta menjalani hidup dengan ikhlas sehingga akan bisa memaafkan orang lain.

Pasangan dari maaf  adalah terima kasih. Kata ini juga memiliki kandungan makna yang amat mulia dan dalam. Jika kata maaf menyadarkan betapa kita sering membuat salah dan menyakiti orang lain, dalam kata terima kasih mengingatkan kita betapa banyak setiap harinya seseorang menerima kebaikan hati dan pertolongan orang lain. Kita tidak bisa hidup tanpa bantuan dan kebaikan hati orang lain.

Apa pun pemberian orang,  pasti akan dijawab dengan  ungkapan ”terima kasih”. Entah pemberian  itu berupa tenaga, materi, moral, dan bentuk apa pun lainnya, semuanya dijawab dengan kata terima kasih. Tanpa cinta kasih, perbuatan kita kehilangan makna padahal cinta kasih  itu  merupakan pancaran dari kasih Allah.

Bukankah setiap melakukan perbuatan yang baik, kita dianjurkan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”?  ini dimaksudkan  agar kita bisa meneruskan sifat kasih-Nya sehingga kita bisa menyebarkan kasih sayang  itu dimanapun kita berada dimulai dari kehidupan keluarga, tempat kerja sampai kepada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Namun sepertinya kehidupan kita sekarang sedang krisis nilai dan kewajiban, enggan untuk saling memaafkan dan saling berterima kasih secara tulus. Padahal berapapun berlimpah  kekayaan Indonesia jika kedua nilai itu tidak ada maka kita tidak akan merasakan perdamaian. Seperti halnya betapapun kaya, pintar, tampan ataupun cantik pasangan suami istri tapi klo masing-masing egois, enggan saling memaafkan dan berterima kasih, maka pertengkaran dan perceraian yang akan terjadi. Padahal jika kita bisa menerapkan ini dalam kehidupan sehari hari maka akan tercipta suasana yang damai, nyaman, dan kondusif untuk berprestasi. Karena kebencian dan perasaan tidak dihargai akan membuat suasana tidak produktif bahkan cenderung saling menjegal.

Akan lebih terasa kalau ekspresi maaf dan terima kasih diperkuat dengan tatapan mata simpati, senyum apresiasi, dan jabat tangan persahabatan, terjadilah pergeseran dari rasa ”ke-aku-an” menjadi ke ”ke-kami-an”dan ”ke-kita-an”. Energi semacam inilah yang mesti kita sebarkan di Indonesia saat ini. Kita bisa melihat bagaimana kondisi bangsa yang berjalan tertatih-tatih di tengah negara- negara lain yang berjalan melaju, kita  hanya akan  rugi  memelihara sikap saling membenci, memfitnah, dan menjatuhkan. Seperti misalnya saling menjatuhkan dalam persaingnya untuk merebut kursi kekuasaan, baik sebagai bupati,  gubernur, maupun presiden.

Itulah kenapa kata maaf dan terima kasih disebut sebagai kata-kata yang ajaib karena kata –kata tersebut mampu merubah suatu keadaan seperti yang tadinya tidak nyaman menjadi nyaman. Dan kata-kata ini begitu sulit untuk dikeluarkan atau diungkapkan hanya karena ego dan gengsi  masih terlalu besar padahal jika kata itu bisa dikeluarkan atau diucapkan  kata kata itu akan berdampak sangat besar pada kehidupan ini.

 … By forgiving one to another, we are all becoming more human…

*Sebagian bersumber dari Maaf dan Terimakasih, Harian Seputar Indonesia, Jumat 27 Juni 2008.

 
55 Comments

Posted by on November 10, 2008 in Curhat, Motivasi

 

Tags:

Cinta Semu…

Cinta……

Apa itu Cinta??..

Begitu banyak orang yang mengartikan cinta. Ada pun yang mengatakan Cinta adalah perasaan jiwa, getaran hati, pancaran naluri. Mungkin diantara kalianpun punya arti sendiri apa itu cinta??…. Setiap manusia pasti punya rasa cinta karena jika tidak ada rasa cinta maka di dunia ini tidak akan ada  inovasi, pembangunan dan peradaban. Dan cinta sangat berpengaruh sekali  terhadap kehidupan manusia karena cinta bisa membawa keutuhan, perdamaian, kebaikan pada kehidupan bemasyarakat. Namun cinta juga bisa menghempaskan manusia kepada jalan yg hina…

            Cinta adalah fitrah yang suci yang telah dianugerahkan Allah untuk setiap manusia didunia ini, maka sudah seharusnyalah perasaan cinta itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Pada dasarnya cinta memiliki 3 tingkatan, Cinta tingkat tertinggi adalah cinta kepada Allah, RasulNya dan  jihad dijalanNya. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, keluarga, pasangan dan saudara. Cinta yang  paling rendah adalah cinta yang lebih mengutamakan harta dan jabatan…

            Kita tahu  bahwa cinta kepadaNya adalah yang lebih tinggi. Dan begitu banyak orang  termasuk kita yang  mengaku mencintai Allah dan Rasulullah…, Tapi bagaimana mungkin diterima Allah sedangkan kita hanya bisa bilang tanpa berbuat sesuatu apapun, dan dihati  kita masih dibayangi oleh Read the rest of this entry »

 
27 Comments

Posted by on November 1, 2008 in Curhat, Love, Motivasi

 

Tags:

 
%d bloggers like this: